DRAMA RINJANI

Pada dasarnya, setiap orang mempunyai tingkat kepuasan yang berbeda-beda. Bisa jadi, yang dianggap sesuatu hal yang sangat besar akan di anggap orang lain hanyalah sebuah hal sepele. Dan hal itu akan membuat kita terkekang untuk meluapkan seluruh tingkah laku kita dalam berekspresi. Itulah mengapa tulisan ini saya temakan “Drama Rinjani”.

Sejak awal mengenal dunia kepecinta alaman, tidak pernah terfikirkan untuk menginjakkan kaki ini di puncak tertinggi yang berada di Nusa Tenggara Barat (NTB) tersebut. Entah mengapa, seolah jalan takdir menuntun saya menuju kearah sana.

Saya pun tidak mengira hal ini telah saya lalui. Betapa tidak, Tuhan memperkenalkan saya dengan salah seorang perempuan yang telah membawa saya duduk di puncak Gunung Rinjani sembari menikmati hangatnya mentari pagi yang perlahan mulai menampakkan cahayanya dari arah timur. Tak hanya itu saja, tepat dihadapan saya nampak jelas terlihat danau Sagara Anak yang begitu tenang dihiasi beberapa gumpalan awan-awan kecil yang tampak terlihat dari kejauhan. Beberapa kawan saya mengatakan, bukan hanya Bandung saja yang diciptakan Tuhan ketika sedang tersenyum, tapi tempat ini juga.

Jauh sebelum keadaan membawa saya di tempat itu terdapat banyak teka-teki dari sang pencipta yang sama sekali tidak bisa dibayangkan. Mulai dari tragedi tergelincirnya pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT  892 di Bandar Udara Djalaludin Gorontalo (GTO), Minggu (29/04/2018) petang, yang membuat tiket penerbangan menjadi lenyap, kemudian kehabisan uang untuk pulang ke Gorontalo saat sedang berada di ibu kota, dan harus tinggal selama beberapa minggu di kampus Universitas Muhammadiyah Tanggerang (UMT), lalu dicampakkan ketika datang berkunjung ke asrama Gorontalo yang ada di Jakarta, yang lebih di kenal dengan ST29. Hingga tragedi ketinggalan pesawat saat bertolak dari Bandar udara Soekarno Hatta. Sungguh menyenangkan perjalanan ini bukan? Apa yang sudah tertakar tak akan tertukar.

Sangat banyak peristiwa yang telah terjadi pada saat itu dan nantinya akan saya curahkan satu persatu dalam tulisan ini, semuanya berawal dari kata “Tuhan Di Gorontalo Sama Dengan Tuhan Di Lombok”, beberapa susunan kata yang di adopsi oleh teman saya dari sudut pandangnya ustadz Hanan Attaki saat hendak melanjutkan studinya di Kairo Mesir. Terdengar sangat konyol. Namun, hal tersebut sungguh benar-benar terjadi. Dan inilah yang menjadi cikal bakal perjalanan saya saat itu.

Namanya Indriani Gazali, sosok perempuan yang saya temui saat melakukan camping di hutan Pinus Dulamayo awal tahun 2018 yang lalu. Ketika itu, 2 kawan saya yang bernama Ilham dan Nawir mengajak untuk bermalam di hutan Pinus tersebut dengan mengajak salah seorang perempuan yang bernama Indri tersebut.


Singkat cerita, saat kami berbincang-bincang semalaman, ternyata Indri tersebut merupakan Mahasiswa angkatan tahun 2012, dengan mengambil program studi System Informasi di kampus STMIK Ichsan Gorontalo. Dan itu artinya, kami berdua masuk dikampus yang sama dan mulai menimba ilmu di tahun yang sama pula.

Dan anehnya, selama kami duduk dibangku kulliah, kami berdua tidak mengenal satu sama lain. Padahal, kami berdua mengambil kelas yang sama yakni kelas regular. Berbeda dengan 2 teman pria saya yang sejak awal menjadi mahasiswa sudah berteman dengan Indri. Mungkin saya terlalu cuek dengan para mahasiswa yang ada di kampus atau apalah yang jelas kami berdua dipertemukan setelah kami menjadi alumni di kampus tersebut. wkwkk.

Malam semakin larut. Rupanya perbincangan kami mulai terarah kesuatu hal yang serius, dan ternyata kami berdua mempunyai hobi yang sama yaitu travelling dan menulis. Oh iya sahabat pena, sosok Indri ini ternyata juga merupakan seorang tour guide untuk wisatawan asing yang ingin berkunjung ke tempat-tempat wisata yang ada di Gorontalo, dan sekitarnya. Termasuk Sulawesi tengah dan Sulawesi utara. Dan jika dipadukan antara kami berdua, dengan pengalaman organisasi saya di Pecinta Alam tentunya ada frekuensi kita yang saling terhubung.

Itulah awal pertemuan saya dan Indri. Setelah beberapa hari usai camping tersebut, saya menemukan sebuah kompetisi melalui sosial media Instagram. Dimana pada saat itu, akun Instagram @pigi_jo membuat Blog Contest dengan tajuk “jelajahi pelosok Indonesia” dan sontak pamphlet tersebut saya repost ke akun instagramnya Indri.

Nampaknya Indri merespon hal itu. Dan dia malah menantang saya untuk ikut bersamanya dalam lomba tersebut. Sungguh, hal itu sangat diluar dugaan, karena sejak awal berkenalan, Indri mengungkapkan bahwa dirinya gemar menulis, namun enggan mengekspos tulisannya dan lebih memilih untuk menelantarkan karyanya dalam tumpukan buku diari. Tapi entah mengapa, eh tiba-tiba dirinya semangat untuk mengikuti lomba tersebut. Akhirnya kami berdua mulai mengatur waktu membuat pertemuan untuk membahas konsep untuk mengikuti perlombaan.

Memang, sejak awal pertemuan di hutan Pinus Dulamayo saya terus menekankan kepadanya bahwa sebaik apapun karyamu jika hanya di simpan dalam sebuah diari saja semuanya akan sia-sia, dan Ketika jasad sudah tiada, maka yang dikenang hanyalah sebuah karya darimu. Mungkin kata-kata itu yang telah memotivasinya untuk mau mengikuti kompetisi dalam Blog Contest ini, mungkin!

Saat bertemu,kami bersepakat untuk melakukan perjalanan kami yang ke dua kalinya setelah dari Pinus Dulamayo tersebut. Kami berencana melakukan perjalanan ke salah satu Taman Nasional yang terbesar di Sulawesi yaitu Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Kebetulan, lokasi tersebut tidak jauh dari tempat asal kami.

Sebelum melakukan perjalanan ke Taman Nasional yang jaraknya sekitar 2 jam perjalanan menggunakan sepeda motor saat bertolak dari kota Gorontalo, tentunya kami tidak akan diizinkan masuk oleh petugas. Ya, hal itu sudah pasti karena kami berdua bukanlah satu pasangan yang halal baik dimata hukum dan agama. Singkatnya, saya mengajak teman pria saya yang sama-sama bergelut di kepecinta alaman. Namanya Sodiq Nur Holid,

Dengan demikian perjalanan kami melewati pintu registrasi menuju Taman Nasional itupun sangatlah terbuka lebar. Dengan salah satu persyaratannya sampah yang dibawah masuk Taman Nasional harus dibawah pulang. Syarat itupun sangatlah mudah kami penuhi dengan berbekal ilmu yang kami peroleh Ketika masih aktif di organisasi pecinta alam yang ada di kampus.

Kami merencankan perjalanan tersebut selama 2 hari saja untuk mengamati lokasi yang ada di Kawasan Taman Nasional tersebut. Dengan bermodalkan sedikit pengetahuan yang kami peroleh, kami berhasil sampai ke lokasi yang dituju dengan berjalan kaki menyusuri hutan selama 2 jam perjalanan, dipenghujung hari yang mulai gelap. Dan sesuai rencana yang kami sepakati, kami menginap di Camp Hungayono.

Sedikit berbagi informasi sahabat pena, di Kawasan hutan Taman Nasional ini terdapat ratusan jenis burung yang ada di dalamnya, dan beberapa diantaranya merupakan hewan yang dilindungi karena jumlahnya yang sedikit dan mulai terancam punah. Untuk lebih lengkapnya silahkan klik disini. Cukup menarik untuk di jelajahi bukan?

Prinsip saya sederhana, kenapa hal ini perlu di ekspos karena makin banyak yang mengetahui tempat ini, akan lebih banyak juga yang akan melindungi kawasan tersebut dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Saat pagi datang, kami bergerak menuju ke tempat penangkaran maleo yang lokasinya tak jauh dari tempat kami beristirahat. Setelahnya, kami pergi ke padang ilalang untuk melengkapi data dan mengambil beberapa dokumentasi.

Setelah beberapa data dan informasi yang telah kami dapatkan di tempat tersebut kami Kembali ke camp untuk mempersiapkan makanan sebelum akhirnya kembali ke kota.

Beberapa hari kemudian kami bertiga berencana untuk mulai mengolah informasi yang telah kami dapatkan. Singkat cerita, tulisan itupun akhirnya selesai dengan judul “Save Our Home” isi dari tulisan ini menceritakan tentang sebuah hamparan keindahan hutan Taman Nasional dan ekosistem yang ada di dalamnya.

Entah jadi seperti apa ceritanya, tiba-tiba dering suara handphone membangunkan saya dari nikmatnya tidur. Rupanya handphone itu bertuliskan Indri memanggil. Langsung saja saya mengangkat handphone tersebut, kali ini saya tidak mendengar lagi suara cempreng dari perempuan tersebut dan yang ada hanyalah suara tangisan yang tersedu-sedu.

Dengan gerakan refleks, mata saya terbelalak dan mencoba menenangkan suara tangisan yang keluar dari speaker telepon Samsung lipat saya kala itu.

Dengan nafas yang mulai teratur, Indri mengatakan bahwa tulisan tersebut semuanya telah terhapus saat dirinya hendak mengapload di blog Pigijo. Langsung saja saya bergegas pergi ke tempat Indri bekerja. Dan benar, tulisan itu sudah tidak ada lagi di komputer kantor tempat dirinya bekerja. Baik itu tersimpan di bagian recent  Microsoft Word dan juga Recycle Bin. Dengan satu tarikan nafas yang Panjang saya mengatakan kepada Indri untuk memulai tulisan tersebut dari nol lagi.

Oiya sahabat pena, Indri saat itu bekerja sebagai Pekerja Honor Lepas di Unit Reskrim Polsek Dungingi, Polres Gorontalo kota. Jadi, dengan keterbatasan yang ada, kami menggunakan komputer kantornya.

Kali ini, kita bertiga mulai menyusunnya Kembali. Dan sesekali mengingat momen pada tulisan sebelumnya. Dipertengahan alur teks yang kembali mulai tersusun rapih, teman saya Sodiq teringat tentang aturan lomba tersebut. Dimana dalam aturannya ditegaskan bahwa judul tulisan yang diunggah dalam blog pigijo tidak bisa menggunakan Bahasa Inggris. Rasa tidak percaya pun muncul dan kami langsung melakukan pengecekan kembali persyaratan lomba tersebut. Dan benar saja, aturan tersebut persis sama seperti apa yang dilontarkan Sodiq tadi. Hmm, tampaknya, salah satu jalan takdir kami telah di tuntun oleh sang pencipta.

Tidak bisa dibayangkan sahabat pena, seandainya tulisan yang di tulis oleh Indri tidak terhapus, dan terunggah di blog pigijo, tentunya kita akan gagal dalam kompetisi tersebut. Seperti yang saya katakan tadi, segala sesuatu yang telah di takar tak akan tertukar.

Akhirnya, tulisan yang kami buat pun selesai ditulis setelah beberapa hari sudah menyita waktu saya dan Sodiq  untuk terus mendatangi kantor tempat Indri bekerja. Dan kali ini, tulisannya bertemakan Negeri Tanpa Polusi “Hungayono”.

Kenapa temanya demikian, ya karena di tempat itulah udara segar dapat ditemukan dimana saja dan kapan saja secara gratis tanpa harus mengeluarkan uang sepeserpun. Berbeda dengan di perkotaan, polusi dimana-mana sehingga udara sejuk tidak akan ditemukan Ketika berada di perkotaan.

Selain itu juga, Hungayono merupakan wilayah yang menghubungkan antara daerah Pinogu dan juga Tulabolo. Menariknya, jika melewati jalur ini, tidak akan ditemukan alat transportasi apapun kecuali berjalan kaki. Sangat menarik untuk dikunjungi bukan?

Setelah tulisannya di upload di Blog Pigijo, kami sesekali mengintip beberapa tulisan yang ada di blog tersebut, dan sangat menarik ketika melihat tulisan-tulisan yang telah di upload sebelumnya oleh peserta lain. Ada yang menulis tentang Taman Mini Indonesia Indah, ada yang menulis tentang Danau Toba dan bahkan, ada juga yang menulis tentang Raja Ampat. Secara otomatis, partikel-partikel insecure dalam diri saya mulai menyatu untuk membentuk suatu kesatuan. Hehee. Bagaimana tidak, jika dibandingkan dengan karya kami, yah apalah daya, kami hanyalah wilayah kecil yang berada di bagian utara pulau Sulawesi yang keindahan alamnya tidak secantik keindahan alam yang ada di tempat yang lain.

Beberapa hari berselang, usai pertemuan tersebut. Kami tak kunjung berkomunikasi lagi, dan tiba-tiba, sekitar pukul 14.00 Wita dering suara telephone genggam saya menghentikan lelucon beberapa kawan saya yang saat itu sedang asyik nongkrong bersama di kos-kosan. Lagi, Ketika saat membuka handphone tersebut nampak di layar bertulisakan nama Indri memanggil. Langsung saja saya mengangkatnya.

Tanpa salam pembuka, tiba-tiba suara teriakan terdengar keras dari balik handphone. “Bro, kitorang menang,” teriak Indri. Saya masih bingung, Dan tidak tau apa maksud dari pernyataan tersebut.

“Co ngana buka siaran langsung lo Instagram Pigi jo” timpanya lagi. Seketika saya langsung terfikir kepada lomba tulis yang kami ikuti. Saat itu saya masih tidak percaya dengan kata-kata yang dilontarkan perempuan tersebut. Ya, hal itu saya yakini karena selama hidup kami bertiga, satu diantaranya belum pernah ada yang mengikuti lomba menulis. Masa iya bisa menang dengan begitu saja. Tentu informasi ini membuat saya tidak percaya.

Sontak, saya pun meminjam handphone milik teman saya untuk membuka Instagram, karena pada saat itu android saya sudah rusak. Dan benar saja, apa yang dikatakan Indri tersebut benar. Tulisan yang berjudul Negeri Tanpa Polusi berhasil menjadi jawara pada Blog Contes tersebut.

Tangkapan layar Instagram Stori akun @pigi_jo

Perasaan saya bercampur aduk kala itu. Saya tak tau lagi harus bersikap seperti apa, harus berfikir seperti apa, dan apa yang akan saya lakukan. Hal ini sungguh diluar dugaan. Beberapa gelas yang berisi kopi panas di meja pun mulai dingin akibat terabaikan dengan pengumuman tadi. Saya dan beberapa kawan saya juga sempat mempertanyakan penyelenggara lomba tersebut.

Masa iya, bisa menang. Atau jangan-jangan itu akun palsu yang sengaja dibuat untuk tipuan belaka saja. Fikiran saya saat itu mulai melayang dan menjurus ke arah sana. Belum lagi, beberapa pernyataan tidak percaya yang dilontarkan oleh teman saya. Dan hal itupun semakin membuat fikiran saya berputar 180 derajat.

Benar juga kata teman saya. Selama ini kan kami bertiga tidak ada yang berpengalaman, kenapa bisa menang? Apalagi, zaman sekarang penipuan mulai marak dan memiliki banyak cara untuk mendapatkan sesuatu hal. Pikiran ini pun semakin menjadi-jadi, pernyataan tidak percaya pun mulai saya yakini.

Langsung saja saya mengajak Indri untuk bertemu, dan beberapa perkataan tidak percaya pun sudah saya sampaikan melalui pesan singkat, mendahului pertemuan kami.

Dan benar, Ketika Indri mencoba menghubungi melalui Direct Message ke akun Instagramnya @Pigi_jo, jawabannya formal-formal saja. Dan lebih mengejutkan lagi biodata lengkap pemenang diminta. Katanya untuk kelengkapan administrasi panitia penyelenggara sekaligus untuk pemesanan 2 tiket gratis ke Lombok sesuai dengan pemenang juara Blog Contes yang tertera di Phamplet tersebut.

Rasa tidak percaya pun mulai semakin kuat saja, apalagi alamat emailnya Indri sudah diminta, katanya tiket akan di kirim melalui email. Hmm… bagaimana kalau akun itu menipu kita? Bagaimana jika biodata kita dipakai untuk menjadi netizen yang memberikan komentar-komentar miring tentang penguasa di negara ini? Atau jangan-jangan biodata kita dipakai untuk membobol sebuah perusahaan bank dunia, atau semacamnya? Bisa berapa lama saya akan dibalik jeruji besi? Semua pertanyaan itu terus menghantui, namun Indri tetap berusaha yakin kalau itu bukan penipuan. Meskipun, hatinya sedikit ragu.

Selang beberapa hari kemudian, keadaan masih seperti biasa, saya masih bisa merasakan nasi kuning buatan ibu yang di jual setiap pagi di depan rumah. Dan itu berarti saya belum di tuntut pidana oleh pihak Kejaksaan dihadapan Majelis Hakim dengan jenis pelanggaran undang-undang ITE akibat membobol sebuah bank. Wkwkk.

Untuk ketiga kalinya dalam cerita ini, Indri menelpon. Semoga ini pertanda baik. Ya, dan itu benar, rasa tidak percaya, ragu dan was-was yang sejak beberapa hari belakangan ini telah membentuk suatu geng untuk memporak-porandakan pikiran saya, sirna dengan begitu cepat saat indri mengatakan 2 tiket gratis ke Lombok sudah ready untuk penerbangan Jakarta-Lombok dan Lombok Jakarta. Lah, Cuma dua? Kami kan bertiga! Terus bagaimana dengan Sodiq? Belum lagi, perjalanan kami dari Gorontalo – Jakarta dan Jakarta – Gorontalo siapa yang akan menanggungnya.

Tangkapan layar email dari pigijo.

Bingung… Dari mana kita mendapatkan uang sebanyak itu, apalagi Sodiq tidak ditanggung oleh panitia. Dan jika di tanya penghasilan kami saat itu masih sangat minim. Karena saya dan Sodiq belum sebulan diterima magang di salah satu perusahaan yang ada di Gorontalo. Tentu hal ini tidak akan bisa membantu. Belum lagi informasi ini telah sampai kepada atasan Indri sebelum waktu yang direncanakan. Pastinya Indri tidak akan diizinkan untuk cuti kerja.

Saya mulai berfikir untuk membatalkannya saja, meskipun masih dalam satu negara yang sama namun dengan melihat jarak antara Gorontalo dan Lombok terpaut sangat jauh tentu risikonya sangat besar. Perasaan dilema Kembali menghantui saya. Apakah kita akan berangkat ke Lombok, atau hadiahnya diuangkan saja dan dibagi secara merata. Karena masing-masing dari kami juga merupakan harapan dari keluarga untuk membahagiakan mereka.

***

Terima kasih telah membaca tulisan ini, nantikan part II nya ya….

2 komentar pada “DRAMA RINJANI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *