Saya Tidak Menentang Pembangunan Kampus

Oleh : Zebra Mapala Mohuyula

(Opini) – Tahun 2008 lingkungan kampus UMGo bak padang pasir di Arab Saudi, panas, bisa dibilang minim tempat berteduh.

Guyonan masyarakat “cuma dua musim di Gorontalo panas dan panas skali” sangat tepat untuk kampus dengan slogan Kampus Pencerahan ini.

Tahun 2009 sampai 2014 mahasiswa mulai giat menaman pohon di lingkungan kampus seiring dengan keinginan Rektor UMGo Prof. Dr Ir. H. Nelson Pomalingo. Rektor kemudian mendaulat Organisasi Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Mohuyula sebagai organisasi intra kampus yang bertanggungjawab untuk penghijauan lingkungan kampus.

Lebih dari itu, guna mendukung rencana hutan kota di Kabupaten Gorontalo termasuk di lingkungan kampus, Rektor UMGo (Nelson Pomalingo) di tanggal 12 Januari 2013 mendatangkan Menteri Kehutanan RI Zulkifli Hasan. Kunjungan itu ditandai dengan penanaman pohon secara simbolis di Hundu Lo Bohu (sebutan bukit kecil di area kampus UMGo).

Baca Juga : Seven Summits Gorontalo

Seiring berjalannya waktu, mahasiswa, tukang somai, pedagang gorengan, masyarakat, dosen, satpam, ketua prodi, wakil pimpinan fakultas, dekan, wakil rektor, bahkan rektor sekalipun kini menghirup udara segar. Sebab, pohon yang dulu kami (mahasiswa tanam) kini sudah rindang.

Namun, sayang. Saat ini karena alasan penataan kampus dan pembangunan, pohon-pohon mulai dibabat secara perlahan termasuk pohon trembesi (Samanea saman).

Mungkin mereka lupa bahwa pohon Trembesi bermanfaat sebagai tanaman peneduh, tak banyak orang yang tertarik untuk membudidayakan flora satu ini.

Bukan menggurui, saya buka kembali fungsi dan manfaat pohon trembesi; selain berfungsi sebagai tanaman peneduh, tak banyak yang mengetahui jika pohon yang berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara ini bermanfaat untuk beragam kebutuhan.

Melansir jurnal Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), setidaknya ada lima manfaat pohon trembesi yang bisa kita dapat dari berbagai bagian pada tumbuhan tersebut, di antaranya: Berkat permukaannya yang lebar, daun trembesi digadang-gadang mampu menyerap karbon dioksida sebesar 28.442 kg per pohon setiap tahunnya.

Dulu saya masih ingat, tapi bukan untuk membandingkan. Waktu di era Nelson Pomalingo kala menjabat sebagai rektor, orang yang menebang pohon sembarangan dengan dalil apapun pasti dia marah.

“Siapa yang minta di potong? Masa susah payah kita menanam lalu dirusak,”

Saya tidak menentang pembangunan kampus, tapi seyogyanya jika ingin membangun jangan merusak pohon.

“Beda pendapat bukan berarti tidak sejalan,” alumni UMGo 2015-Zebra Mapala Mohuyula.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *