Tekad Baja

Segala sesuatu hal jika tidak dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan menghasilkan apa-apa, dan terkadang kita harus memiliki tekad yang sangat kuat seperti baja agar bisa meraihnya.

Penatualang.id – Hari demi hari terus berganti. Semangat kami bertiga untuk menapaki dataran Lombok semakin tak terbendung. Meskipun saat ini baru mengantongi 2 tiket dari panitia.

Untuk saya dan Indri, seperti pada cerita sebelumnya, sudah diakomodir oleh panitia untuk penerbangan dari Jakarta menuju Lombok dan sebaliknya. Dan untuk Sodiq diluar tanggungan panitia.

Sementara pemberangkatan kami dari Gorontalo ke Jakarta dan Jakarta ke Gorontalo diluar tanggungan panitia.

Hal ini yang membuat kami bertiga terus mencari cara agar bisa terbang ke pulau yang berjuluk Seribu Masjid tersebut.

Baca Juga : Drama Rinjani Part I

Tiba-tiba, saya teringat pada zaman kuliah dulu, ketika hendak membuat kegiatan organisasi. Kami sering membuatkan proposal permohonan dana kepada perusahaan-perusahaan dan juga berbagai Instansi yang ada di Gorontalo.

Saya mulai berfikir mengapa hal ini tidak kita lakukan untuk memuluskan perjalanan. Terlebih lagi, ini bukanlah sesuatu hal yang baru. Tentunya metode penulisan serta teknisnya sudah diketahui.

Langsung saja, kami mulai melakukan pemetaan, akan kemana saja proposal yang akan di masukkan. Karena lokasi Hungayono berada di Suwawa, maka proposal yang di buat lebih dominan kepada pemerintah Bone Bolango.

Dengan harapan, adanya tulisan Negeri Tanpa Polusi “Hungayono” yang telah meraih peringkat pertama pada Blog Contest Jelajahi Pelosok Indonesia, tentunya akan membuat balutan proposal kami memiliki nilai tersendiri di mata pemerintah daerah.

Namun nyatanya, tidak demikian. Dalam proses yang kami lalui, kami sesekali dibenturkan dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan perencanaan sebelumnya.

Target awal kami, seminggu berjalan proposal tersebut semuanya sudah masuk dan mendapatkan lampu hijau. Sungguh, hal ini berbanding terbalik dengan apa yang sudah direncanakan. Dan telah melampaui waktu yang telah ditargetkan sebelumnya.

“Mohon maaf sebelumnya pak, bapaknya sedang berada di luar daerah, untuk balik ke Gorontalo belum bisa dipastikan tanggal berapa,” lagi! Perkataan seperti ini kami dengar dari seorang staf kantor yang kami datangi.

Tentu hal ini membuat semangat kita mulai melandai. Sementara, waktu keberangkatan tinggal beberapa minggu lagi. Keluar masuk Instansi pemerintah daerah menjadi agenda rutin kami sejak pagi hingga sore hari.

Wadidaw… keluar masuk kantor pemerintah daerah?!! Hehe, berasa seperti jadi Sekretaris daerah ataupun jadi kepala BKD yang melakukan monitoring pada tiap-tiap ASN. Wkwk.

Sadarlah bung! Dirimu hanyalah seorang pengemis yang dibalut dalam tumpukan kertas bernama proposal!

Rupanya, sampai hari ini pun ingatan tersebut masih membekas, padahal kejadian tersebut sudah berlangsung selama 3 tahun yang lalu.

Plan B mulai dijalankan. Kami mulai mengoleksi nomor handphone para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang tercantum pada salah satu media cetak yang ada di Gorontalo dan mulai menghubunginya satu persatu.

Beberapa diantaranya merespon. Namun tidak sedikit juga para pejabat yang enggan merespon hal tersebut.

Giliran sudah ada pejabat yang merespon telepon, eh ternyata kami tak kunjung mendengar perkataan yang menggembirakan.

“Mohon maaf ya dek, sampai saat ini untuk anggaran seperti yang dimaksudkan belum ada dek. Namun hal itu akan coba kita upayakan,” kata salah seorang pejabat.

Pikiran saya pada saat itu sungguh sangat kacau. Seketika kami bertiga duduk terdiam meratapi beberapa tumpukan proposal yang belum ditemukan pemiliknya.

Bingung, geram, dan jengkel. Itulah suasana hati yang tergambar pada siang itu. Rencana kami yang kemarin yang sudah tersusun apik kini dilenyapkan oleh kenyataan.

Namun tidak dengan indri yang semangatnya tak kunjung padam. Oiya sahabat pena, saya teringat tentang suatu hal yang membuat semangat Indri terus menggebu.

Sejak berada dibangku sekolah, Indri merupakan seorang siswi yang berprestasi. Sehingganya, gelar jawara terus disandingkan dengannya.

Dan hal itu pun berakhir ketika dirinya menyelesaikan status sebagai siswi dibangku Sekolah Menengah Kejuruan yang ada di Gorontalo pada tahun 2011.

Setelah beberapa tahun berselang, Namanya kian merosot. Baik dari predikat sebagai jawara, seperti didunia akademik maupun dalam karirnya.

Hingga pada tahun 2018, gelar jawara itupun kembali bersanding dengan Namanya usai memuncaki posisi teratas pada lomba Blog contes yang diceritakan pada tulisan ini. Hal itulah yang membuat dirinya tidak patah semangat dalam menggapai impian ini.

Plan c

Kembali kami bertiga memulai diskusi untuk mengatur strategi perang. Ups! Maksudnya mengatur strategi agar proposal kami dapat terterima dengan baik. Hehee.

Perlu sahabat pena ketahui, plan C ini sangatlah berbeda dengan plan A dan plan B sebelumnya, karena plan C ini merupakan cara yang terakhir yang akan kami gunakan. Kesannya sedikit brutal dan penerapannya pun dilakukan secara door to door.

Dengan cara ini ternyata langkah kami menuju kota Pariwisata menjadi mulus setelah beberapa kali  kami berhasil mencegat orang nomor satu di Bone Bolango pada saat itu dan juga beberapa wakil kami yang duduk di parlemen daerah, baik yang berada di Provinsi maupun di Kabupaten itu sendiri.

Akhirnya kami berhasil mengantongi sejumlah rupiah untuk digunakan pada pemberangkatan menuju Jakarta.

Seperti yang diketahui, panitia hanya mengakomodir tiket pesawat Jakarta-Lombok maupun sebaliknya. Itupun, hanya 2 orang saja. Tapi tak perlu khawatir lagi, kantong kami saat ini sudah gemuk untuk pemberangkatan ini. Ceilah sombong amat!

Setelah jadwal pemberangkatannya telah rampung, kembali muncul masalah baru! Indri tidak mendapatkan izin dari kedua orang tuanya untuk ikut bersama kami.

Tak hanya itu saja, pimpinan tempat dirinya bekerja pun tak mengizinkan untuk cuti. Oh my god! Ini bukanlah akhir dari semua drama ini kan?

Harus bagaimana lagi untuk memecahkan masalah tersebut. Sebagai seorang pria, saya dan Sodiq pun tentunya mempunyai naluri sebagai seorang yang gentleman. Cihuy, wkwk.

Dengan cara yang sangat mudah kami mampu merebut restu kedua orang tua Indri. Kebetulan pada saat itu kedua orang tuanya sebagai salah satu distributor kantong plastik yang ada di Gorontalo.

Sahabat pena pastinya sudah bisa menerka-nerka apa yang akan kita lakukan. Ya! Kami mulai masuk kedalam pasar sentral dan juga beberapa pasar pasar dan took lainnya yang ada di Kota Gorontalo untuk menjual kantong plastik tersebut.

Dengan melepaskan rasa insecure selama beberapa jam saja untuk menjual kantong plastik tersebut nampaknya telah berhasil merebut restu kedua orang tuanya.

Target selanjutnya adalah pimpinannya Indri. Dengan berlatar belakang sipil yang menjaga kemanan dan ketertiban masyarakat tentunya hal ini tidak mudah seperti menjual kantong plastik sahabat pena.

Untuk memperoleh cuti tersebut sangat diperlukan mental yang kuatnya setara dengan baja dan untuk melewatinya pun tidaklah semudah yang dibayangkan.

Berkat kegigihan itupun segala rintangan berhasil kami lalui. Orang tua Indri dan pimpinannya pun menyetujui tentang perjalanan kami bertiga ini.

Akhirnya sahabat pena, setelah melewati berbagai rintangan yang ada  perjalanan kami menuju Lombok akan berjalan mulus.

Untuk saya dan Sodiq sendiri tak perlu membutuhkan izin dari perusahaan tempat kami bekerja. Karena pada saat itu jumlah yang ikut pemagangan melalui jalur pemerintah provinsi sangat banyak, jadi tidak akan ketahuan jika salah satunya bolos.

Hehee. Tidak untuk ditiru ya… kecuali dalam keadaan mendesak seperti ini. Hmm… Begini sahabat pena, semua orang bisa saja lulus saat mengikuti program pemagangan tapi tidak semua orang bisa pergi ke Lombok dengan bermodalkan sebuah prestasi. Menarik bukan?

Hal tersebutlah yang menguatkan tekad saya. Dan kalaupun tidak lulus dalam pemagangan tahun ini masih ada kesempatan tahun depan, tapi tidak dengan kesempatan menapaki puncak gunung Rinjani ini.

Tibalah pada hari pemberangkatan yakni pada tanggal 2 Mei 2018. Saat tiba di Bandara aktivitas disekitarannya pun terlihat sunyi.

Tapi hal itu tidak menimbulkan kecurigaan terhadap apapun. Hingga bertemu dengan salah satu petugasnya.

Coba tebak sahabat pena, masalah apalagi yang kami hadapi? Nampaknya masalah ini akan menjadi akhir dari cerita ini!

Bagaimana tidak, tepat pada tanggal 29 April sebelumnya, Pesawat lion air dengan nomor penerbangan JT 892 tergelincir sesaat mendarat di Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo.

Dengan adanya insiden tersebut maka pihak Bandara meniadakan penerbangan hingga tanggal 4 Mei nanti.

Jika kami tidak berangkat pada saat itu juga, maka tiket kami menuju Lombok dari Jakarta akan hangus. Waduh! Bisa gagal perjalanannya kalau seperti ini.

Sementara itu, pada saat kami melakukan konsultasi dengan pihak bandara, biaya pembatalan tiket keberangkatan dari Gorontalo menuju Jakarta akan diproses setelah 14 hari kemudian. Sungguh hari itu seperti sebuah kiamat bagi kami bertiga.

Berbagai usahapun telah kami lakukan agar biaya tiket dari Gorontalo ke Jakarta bisa di refund pada saat itu juga, namun pecuma saja seluruh argumen yang dilontarkan tidak menghasilkan apa-apa.

Dengan sebuah perasaan yang sudah berkecamuk akhirnya kami bertolak dari Bandara Djalaluddin menuju kota Gorontalo.

Pada hari itu juga, kami segera menghubungi panitia pelaksana dan menjelaskan permasalahan yang terjadi dan berharap seluruh schedule bisa ditunda untuk beberapa minggu kedepan. Yah minimal sampai pembatalan tiket kami selesai diproses.

Tekad Baja
Schedule panitia pelaksana Blog Contes Jelajahi Pelosok Indonesia.

Namun sayang ternyata dari pihak panitia pelaksana tidak bisa menggeser seluruh agendanya. Dan itu artinya kita tidak punya pilihan yang lain.

Terima kasih sahabat pena telah membaca tulisan ini hingga paragraf terakhir, nantikan Drama Rinjani Part III nya ya.

Apakah kami bertiga akan berhasil menapaki puncak Rinjani ataukah harus mengubur impian tersebut. simak kisahnya pada part selanjutnya ya…

One thought on “Tekad Baja

  • September 9, 2021 pada 9:37 am
    Permalink

    Kurang panjang durasinya, kereen om

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *